Memaknai Ulang Demonstrasi
MAHASISWA selalu identik dengan aksi atau demonstrasi, setidaknya di
Indonesia. Mungkin hal itu didasari oleh label mahasiswa sebagai agen
perubahan. Kita sudah sering mendengar bahwa setiap perubahan di bangsa ini
selalu melibatkan mahasiswa. Dari Orde Lama hingga Reformasi peran mahasiswa
sangat signifikan sebagai kontrol pemerintahan, katanya. Yang masih lekat dalam
ingatan adalah penurunan rezim otoriter Soeharto. Di mana, penumbangan
tersebut dianggap sebagai aksi demontrasi mahasiswa yang menginginkan
perubahan.
Lambat laun, esensi dari aksi demonstrasi semakin menimbulkan tanda
tanya besar. Mahasiswa tidak sepenuhnya menempatkan pada porsi tuntutan yang
hendak disampaikan. Tak heran jika setiap aksi mahasiswa yang terjadi dominan
pada bentrok dengan aparat kepolisian, pemblokiran jalan dan semacamnya. Bahkan
yang lebih menyedihkan ketika terjadi bentrok dengan warga sekitar. Bagaimana
bisa, mahasiswa turun jalan atas nama memperjuangkan hak-hak rakyat yang telah
diperkosa pemerintah. Nyatanya, mendapatkan perlawanan dari objek yang
diperjuangkan, masyarakat. Ironis bukan?
Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa dengan mengatasnamakan
Lingkar Study Ciputat (LSC) (10/09/2015) menambah deretan buram gerakan jalanan
para mahasiswa. Bagaimana tidak, aksi yang berlangsung di depan gedung MPR/DPR
RI tersebut diwarnai atribut pakaian dalam wanita (BH) dan topeng Jokowi-JK.
Wajar jika aksi tersebut menuai kritik dari berbagai golongan, terutama kaum
perempuan. Bahkan beberapa surat terbukapun dilayangkan untuk mempertanyakan
aksi yang bisa dibilang masuk kategori edan.
Menurut penulis sendiri, aksi Lingkar Study Mahasiswa (LSC) tersebut
sudah keluar dari nilai-nilai perjuangan. Atribut yang mereka pakai secara
tidak langsung telah merendahkan kaum perempuan. Kaum yang telah melahirkan
kita semua. Mereka telah menempatkan kaum perempuan sebagai kelompok lemah,
kelompok yang tidak berdaya dan selalu berada pada nomor dua. Padahal tanpa
perempuan, perubahan mustahil tercipta.
Demonstrasi Bukan Untuk Merendahkan
Secara definitif, demonstrasi merupakan sebuah gerakan protes yang
dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum. Biasanya dilakukan untuk menyatakan
pendapat kelompok tersebut atau penentang kebijakan yang dilaksanakan oleh
suatu pihak.
Di Indonesia, demonstrasi umumnya dilakukan oleh kelompok mahasiswa dan
orang-orang yang tidak setuju dengan pemeritah dan yang menentang kebijakan
pemerintah. Ada juga para buruh yang tidak puas dengan perlakuan majikannya.
Intinya, demontrasi dilakukan sebagai bentuk protes karena adanya ketidakpuasaan.
Jika mengacu pada definisi di atas, aksi demonstrasi LSC merupakan aksi
protes terhadap kinerja rezim Jokowi-JK. Mereka menilai kinerja pemerintahan
hari ini lamban, tidak memuaskan. Jika hal itu benar yang diperjuangkan.
Pertanyannya adalah, kenapa harus memakai BH? Bukankah pakaian itu sangat
identik dengan kaum hawa? Benarkah perempuan itu lemah, sehingga pemerintahan
Jokowi-JK dinilai dengan aksi simbol memakai BH. Sungguh tak habis pikir,
apalagi ini dilakukan oleh sekelompok mahasiswa. Kelompok masyarakat terdidik
yang digadang-gadang sebagai generasi bangsa. Semoga generasi bangsa 10 tahun
ke depan bukan mereka. Mereka yang telah melecehkan kaum hawa, semoga.
Nah, yang menjadi persoalan dalam aksi LSC bukanlah demontrasinya, akan
tetapi cara yang digunakannya. Artinya, demonstrasi masih suatu hal yang sah
untuk dilakukan di negeri ini. Termasuk untuk menyampaikan ketidakpuasan
terhadap kinerja pemerintahan. Namun, semuanya tidak boleh bertentangan dengan
norma-norma yang ada. Apalagi sampai pada wilayah pelecehan. Hal semacam ini
sangat disayangkan.
Untuk itu, aksi yang dilakukan LSC di depan gedung MPR/DPR RI telah
menciderai nama baik dunia pendidikan. Nama baik yang selama ini disematkan
pada mahasiswa sebagai kaum terdidik. Dengan aksi menggunakan pakaian dalam
(BH), mahasiswa yang disebut sebagai agen perubahan telah tercoreng karena
tindakan edan yang mereka lakukan. LSC tidak menyadari bahwa betapa kuatnya
kaum perempuan dibangsa ini. Penulis rasa LSC cukup sempit memahami realita
bangsa ini. Tak heran jika nalar yang mereka gunakanpun sempit, menganggap kaum
hawa lemah dan tak berdaya dengan simbol yang mereka kenakan, BH.
Sepertinya LSC juga menutup mata (kalau buta terlalu berlebihan
menyebutkan ketidaktahuannya) ketika ibu-ibu di Rembang memperjuangkan
hak-haknya terkait pendirian pabrik semen di gunung Kendeng. Pun, LSC juga
tidak mau tahu bagaimana ibu-ibu di Cikarang memblokir jalan di kawasan GIIC
Deltamas. Betapa gagah dan perkasanya ibu-ibu memperjuangkan haknya. Masihkah
kita anggap kaum hawa adalah kaum lemah? Sederhana saja, bukankah semua yang
terlibat di LSC itu terlahir dari seorang hawa. Menyedihkan sekali, orang yang
telah memperjuangkan kehidupannya dilecehkan seketika karena pengetahuan yang
benar menurutnya.
Oleh karenanya, sudah tidak ada alasan lagi bagi LSC untuk membuka
cakrawala pengetahuannya lebih luas lagi. Belajar adalah pilihan yang tepat
untuk mengevaluasi tindakannya. Bahwa apa yang telah dilakukan telah membuat
keresahan lantaran memarjinalkan kaum perempuan.
Padahal di Indonesia, laki-laki dan perempuan berdiri sejajar. Mobilitas dan kualitas menjadi acuan, siapa yang layak menyandang kata lemah. Padahal tak sedikit di bangsa ini para lelaki yang katanya lebih superior dibandingkan perempuan, akan tetapi melakukan hal-hal yang memalukan. Pernahkah hal semacam ini LSC bayangkan?
Padahal di Indonesia, laki-laki dan perempuan berdiri sejajar. Mobilitas dan kualitas menjadi acuan, siapa yang layak menyandang kata lemah. Padahal tak sedikit di bangsa ini para lelaki yang katanya lebih superior dibandingkan perempuan, akan tetapi melakukan hal-hal yang memalukan. Pernahkah hal semacam ini LSC bayangkan?
Terakhir, LSC harus membuktikan keberaniannya untuk meminta maaf secara
terbuka atas apa yang dilakukannya. Minta maaf kepada semua kaum hawa yang
telah disakiti oleh tindakan ngawur-nya.
Ingat, hanya orang lemah yang takut dan malu meminta maaf atas kesalahan yang
diperbuatnya. Hanya keberanianmu (LSC) untuk memohon maaf yang mampu menghapus
tindakan bodoh dan memalukan tersebut. []

No comments:
Post a Comment