Perbincangan Jahat Ning dan Yola

Ning dan Yola
TIDAK banyak yang bisa saya dengar dari obrolan mereka berdua. Ya, Yola yang biasanya suaranya melengking tiba-tiba lirih, cara bicaranya sudah sama seperti manusia pada umumnya.

Cuma, tadi, dari yang mereka bincangkan, ada dua nama yang kerap disebut, Atira dan Alfi.

Obrolan yang pelan membuat saya tak bisa menangkap pembicaraannya. Tapi, saya akan mencoba menjelaskan bagaimana ekspresi mereka. Selanjutnya, kalian bisa menerka-nerka sesuka hati kira-kira apa yang mereka bahas.

Saya mulai dari Ning dulu. Sedikit melihat ekspresi yang ditampakkan, cara bicara Ning sarat emosi. Ada bongkahan dendam yang hendak diluapkan. Gesturnya menakutkan. Meski biasanya kita sering bercanda, untuk kali ini, saya tak memiliki keberanian mengajukan pertanyaan.

Ditambah lagi sorot mata yang nyalang. Selain sarat emosi, tatapannya penuh intimidasi. Jadi ingat film AADC-2 kala Cinta membacakan puisinya; pecahkan saja gelasnya, biar gaduh.

Selanjutnya, Yola. Kita semua sudah paham betul bukan bagaimana anak ini kalau berbicara. Ya, suaranya seperti lafaz adzan yang menggema dari toa musala di perkampungan.

Tapi, kali ini, menyaksikan dan mendengar Yola bicara, kita pasti dibuat kaget. Suaranya pelan, sepelan semut yang berbisik.

Tapi, ekpresinya yang penuh amarah. Ada caci maki yang ingin dihentakkan. Sungguh ini berbanding terbalik dengan Yola yang kita kenal.

Senyumnya hanya menyambar sekelebat saat kita berjabat tangan. Selebihnya, di meja sebelah, bersama Ning, senyum itu berubah dan menakutkan.

Ah, saya tak habis pikir mereka berdua berbincang seserius itu. Bahkan, mereka saling intimidasi. Saya harap mereka tidak saling hipnotis satu sama lain.

Tapi, pertanyaan kemudian mucul kembali.

Lantas, nama Alfi dan Atira yang mereka sebut tadi apa urusannya dengan ekspresi jahat mereka itu?

Ya, hanya mereka berdua dan Tuhan yang tahu. Tugas kita menafsiri dan menerka-nerka ekspresi jahat yang sarat emosi tadi. [6/12/2017]

No comments:

Powered by Blogger.