Tentang Resensi Buku "Di Balik Dinding Rusunawa"

Resensi Buku "Di Balik Dinding Rusunawa; Mengungkap Pengalaman Komunitas Syiah Sampang di Pengungsian" dengan judul: Mereka yang Merindukan Kampung Halaman. (Jawa Pos, Minggu, 28 Januari 2018).
RESENSI buku ini menjadi tulisan pertama saya di tahun 2018. Karenanya saya tertarik membuat catatan singkat, biar kesannya tak sekadar uploud gambar aja, sih. Anggap saja catatan ini karena beberapa alasan yang meurut saya, sayang jika tidak disampaikan.

Pertama, buku DI BALIK DINDING RUSUNAWA; Mengungkap Pengalaman Komunitas Syiah di Pengungsian adalah hasil karya Romel Masykuri bersama dua teman akademiknya di Surabaya.

Saya kenal dekat dengan Romel Masykuri. Bahkan, kita pernah satu kos di Babadan, kurang lebih setahun lamanya. Hingga akhirnya, dia hijrah ke Surabaya, mengejar mimpi akademiknya. Selain itu, Romel juga salah satu mentor saya menulis. Di Jogja, dulu, dia selalu ada waktu mengoreksi tulisan saya yang tentu saja menjenuhkan untuk dibaca.

Singkatnya, Romel Masykuri adalah guru privat saya dalam dunia tulis menulis. Dan, tentu saja, meresensi bukunya Romel Masykuri menjadi kepuasan tersendiri.

Terima kasih Bang atas bukunya, semoga menjadi pemantik untuk karya-karya selanjutnya. Dan, tentu saja, semoga menjadi pembuka mata pemerintah untuk mengembalikan status saudara-saudara kita di rusunawa.

Kedua, saya sengaja memilih MOEDA Institute sebagai identitas. Bagaimana pun, saya memiliki kisah panjang, suka dan duka proses sudah saya rasakan.

Saya masih ingat betul ketika saya memasuki dunia kebimbangan dalam berorganisasi. Kala itu, Khafif Sirojuddin dan Riyadlus Sholihin datang kepada saya dan mengajak terlibat di dalam setiap kegiatan MOEDA Institute. Tawaran itu tidak saya tolak.

Ya, saya masih sangat ingat betul bagaimana Khafif Sirojudin dan Riyadlus Sholihin susah payah menyediakan ruang proses untuk saya dalam dunia kepenulisan. Terima kasih atas semuanya. Maaf, jika sampai saat ini, saya belum bisa berbuat banyak untuk MOEDA Institute.

Dan, yang ketiga, saya teringat kepada dosen saya yang waktu itu juga menjadi kepala jurusan, Fathur Rahman. Saya lupa waktunya kapan. Waktu itu, kita berpapasan di tangga fakultas. Nah, di tangga itu beliau memotivasi saya untuk terus menulis.

Ghiroh, kata ini berungkali beliau ucapkan. Sampai akhirnya, beliau berkata; saya tunggu tulisannya. Seperti kita ketahui, tulisan beliau di Kompas dan Jawa Pos sudah seperti status di sosial media aja. Semoga sehat selalu dan semakin produktif, Pak.
  
Baik, sebagaimana judul tulisan ini, ada rindu yang menyala pada saudara-saudara kita. Ya, buku ini semacam pengingat bagi kita bahwa yang tampak tak melulu nyata. Di rusunawa, saudara-saudara kita memendam rindu dan harapan. Secara sederhana mereka ingin berkata; kami ingin pulang. []

No comments:

Powered by Blogger.